Pagi yang cerah ini ku coba buka situs jawapos. Dan seperti biasa halaman yang paling kubuka pertama kali adalah olahraga. He…He…. Berita utamanya “BAD START” bagi Barcelona yang harus imbang ketika bertanding melawan Alaves. Ya itulah yang namanya sepakbola karena memang bola itu bundar. Tim yang sebelumnya juara liga dengan materi pemain yang wah bisa di buat “frustasi” oleh tim kecil yang barusan promosi ke primera liga. Seru… begitulah biasanya ketika tim papan atas ketika bertemu tim yang barusan promosi. Biasanya tim promosi akan bermain all out ketika Apalagi ketika tim yang menjadi lawan ada pemain yang dulunya pernah bermain dalam tim tersebut. Salahsatunya ya Barcelona dan Alaves.
Namun, ada satu hal menarik bagiku selain itu. Ya, Bonano. Kiper Alaves asal Argentina ini dulu sempat menjadi punggawa Barcelona. Namun seiring usia dan penampilannya yang menurun, iapun segera didepak dan akhirnya terdampar di klub kecil yang bernama Alaves. Nah, ketika Alaves bertemu dengan Barcelona tentunya merupakan kesempatan emas Bonano untuk “membalas dendam” dan ajang pembuktian baginya untuk menunjukkan kepada mantan klubnya bahwa mereka salah telah membuangnya. Namun, bukan emosi “dendam” yang keluar dari seorang Bonano, tapi adalah sikap profesionalisme dan persahabatan yang sungguh patut dicontoh.
Di pertandingan antara Barcelona dan Alaves yang merupakan pertandingan yang sarat emosi tersebut, Bonano mampu tampil gemilang dan bisa dibilang menjadi
man of the match karena beberapa kali menyelamatkan gawangnya dan membuat frustasi para penyerang depan Barcelona. Dan diakhir pertandingan dalam konferensi persnya dia menyampaikan, “Ini hasil yang baik. Saya tak merasa ada pembalasan dendam di sana. Barca bagaimanapun tetap tim hebat. Mereka memiliki banyak peluang, tapi kami bisa menahan imbang. Ini merupakan kejutan,” kata Bonano kepada Mundo Deportivo. Dan kegemilangannyapun mendapat apresiasi dari pemain barcelona. “Kami mencoba segala cara. Namun, saat Tito Bonano menggagalkan sejumlah peluang yang kami miliki, kami mulai dilanda rasa frustrasi,” cetus Carles Puyol, kapten Barca. Dan “Apa yang dia (Bonano) lakukan sangat menyakitkan buat kami. Tapi, itu bukan alasan buat kami untuk memutuskan persahabatan dengannya,” sambung Xavi Hernandez, gelandang Barca tak kalah profesionalnya.
Ya, itulah profesionalisme seorang Bonano yang akhirnya mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Sikap fair play. Dan itu kurasakan masih minim di persepakbolaan nasional. Ya, ku berharap semoga persepakbolaan nasional bisa lebih baik, para pemainnya bisa membedakan bagaimana bersikap ketika di lapangan dan bagaimana harusnya bersikap di luar lapangan. Sebab bagaimanapun juga merekapun secara tidak langsung menjadi publik figur yang akan mempengaruhi para penggemarnya. Bravo Sepakbola Nasional.